A. Konsep dan Fungsi ICT dalam Pendidikan
Indonesia adalah negara kepulauan
yang cukup luas, dengan wilayah
sebesar 5.193.252 km2 dengan Bentangan
Horisontal 1/8 kel. Bumi dan Jumlah Pulau
17.508 dengan Garis Pantai 80.000
km. Jumlah penduudk saat ini adalah 247 juta yang tersebar di 446 Kabupaten/kota, 5.263 Kecamatan dan 62.806 desa.
Dengan potensi yang begitu besar ternyata tidak diimbangi dengan
kemajuan bidang pendidikan dibandingkan dengan negara lain.
Saat ini
Masih banyak anak usia sekolah yang belum dapat menikmati pendidikan dasar 9
tahun, dari anak usia sekolah 7-12 tahun partisipasi siswa untuk mengikuti
pendidikan masih dibawah 80% (APK SMP 85,22; APK SMA 52,2). Tidak meratanya
penyebaran sarana dan prasarana pendidikan/sekolah, sebagai contoh; tidak
semua sekolah memiliki telepon, apalagi koneksi internet, Masih adanya kesenjangan kualitas pendidikan
antara kota dengan desa desa terutama daerah terpencil. Secara umum
masih terdapat kesenjangan antara daerah Indonesia barat dengan daerah
Indonesia timur. Penilaian kualitas pendidikan Indonesia menduduki
ranking 112 dari 175 negara (jauh berada di bawah Malaysia dan Bangladesh). Dan
hal tersebut diakibatkan karena kualitas tenaga pendidik masih perlu
ditingkatkan. Saat ini jumlah guru yang ada adalah 2.692.217, dari
jumlah trsebut yang memenuhi syarat sertifikasi 727.381 orang atau sekitar 27%,
sehingga diperlukan sekitar 1.964.836 atau 73% guru yang harus itingkatkan
kualifikasi pendidikan dan profesionalismenya. Dan
yang juga menjadi masalah adalah rendahnya tingkat pemanfaatan ICT di sekolah
(Digital Divide)
ICT dapat menunjang
optimalisasi sekolah, karena potensi ICT cukup besar, diantaranya (1).Memperluas kesempatan
belajar, (2) Meningkatkan efisiensi, (3) Meningkatkan kualitas belajar, (4)
Meningkatkan kualitas mengajar, (5) Memfasilitasi pembentukan keterampilan, (6)
Mendorong belajar sepanjang hayat berkelanjutan, (7) Meningkatkan perencanaan
kebijakan dan manajemen, (8) Mengurangi kesenjangan digital.
Begitu besar peran ICT dalam
pendidkan sehingga secara khusus pemerintah dalam Pustekkom Diknas membagi
peran ICT di sekolah modern menjadi 7 peran sekaligus sebagi pilar pendidikan.
Ke-7 peran ICT tersebut yaitu :
- ICT sebagai gudang ilmu pengetahuan. Artinya dengan ICT sumber ilmu pengetahuan menjadi begitu kaya bahkan melimpah, baik ilmu pengetahuan inti (core content)dalam pelajaran sekolah maupun sebagai materi pengaya pembelajaran (content suplement).Pada fungsi ini internet memiliki peran besar sebagai sumber ilmu pengetahuan yang dapat diakses secara luas yang didalamnya telah terkoneksi denga ribuan perpustakaan digital, jutaan artikel/jurnal, jutaan e-book, dan lan-lain.
- ICT sebagai alat bantu pembelajaran. Artinya bahwa pembelajaran saat ini lebih mudah dengan bantuan ICT, untuk menghadirkan dunia di kelas dan dapat disajikan kepada seluruh siswa melalui peralatan ICT seperti multimedia dan media pembelajaran hasil olahan komputer seperi poster, grafik, foto, gambar, display, dan media grafis yang lainnya. Pemanfaatan CD Interaktif, Video Pembelajaran, Multimedia presentasi, e-learning termasuk pada bagian ini.
- ICT sebagai fasilitas pendidikan. Dalam hal ini ICT sebagai saran yang melengkapi fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan, terutama fasilitas-fasilitas yang bernuansa elektronik seperti labolatorium komputer, peralatan di laboratorium bahasa, raung multimedia, studio rekaman suara, studio musik, studio produksi video dan editing.
- ICT sebagai standar kompetensi. Artinya ICT sebagai mata pelajaran yang kita kenal Mata Pelajaran TIK. Mata pelajaran ini berisi standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang harus dikuasi oleh siswa mulai SD/Mi, SMP/MTs dan SMA/MA, sebagai bekal siswa dalam kehidupannya (life skill) dan bekal melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.
- ICT sebagai penunjang administrasi pendidikan. Misalnya pemanfaatan software aplikasi untuk membantu administrasi sekolah seperti pembuatan jadwal, pembuatan database siswa, pembuatan laporan sekolah dan rapot siswa, pengolahan nilai siswa, dan lain-lain.
- ICT sebagai alat bantu manajemen sekolah. Manajemen terkait dengan perencanaan, pengelolaan, pengawasan dan evaluasi penyelengaraan pendidikan di tingkat sekolah. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibantu dengan pemanfaatan ICT, misalnya melalui program aplikasi pengolah kata dapat membuat dokumen-dokumen perencanaan sekolah, SIM atau sistem informasi Manajemen sekolah dapat dibuat sekolah sebagai sumber informasi untuk mempermudah akses informasi. Melalui Jardiknas, akan terbangun komunitas antar sekolah yang memudahkan komunikasi antar sekolah. Melalui CCTV saat ini dapat dimanfaatkan sekolah sebagai salah satu bentuk pengawasan pembelajaran.
- ICT sebagai imprastruktur pendidikan. Imprastruktur terkait dengan sarana dan pra sarana lebih luas yang dibutuhkan sekolah termasuk gedung sekolah, ruang kelas virtual, kelas multimedia, dan pembangunan koneksi internet seperti pemasangan tower internet.
B.
Pembelajaran
Berbasis ICT/TIK
Pendidikan tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh gelombang
perubahan teknologi informasi. Respon kita terhadap gelombang perubahan
tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transfor-masi pendidikan.
Transformasi pendidikan dapat terjadi dalam seluruh pilar
pendidikan mulai dari kurikulum dan konten, proses pembelajaran, sarana dan
prasarana, sumberdaya manusia. Administrasi, manajemen dan kebijakan serta
supra dan infra struktur pendidikan.
Dalam aspek kurikulum dan konten, TIK dapat menjadi wahana
transformasi
pendidikan dalam arti menjadi gudang ilmu pengetahuan. Dalam aspek
pembelajaran TIK
dapat menjadi alat bantu pembelajaran, dari aspek SDM TIK menjadi
salah satu standar
kompetensi. Dari aspek administrasi TIK dapat menjadi wahana
transformasi pendidikan
dalam arti menjadi penunjang sistem administrasi dan sebagainya.
Ade Koesnandar (2008:10) menyatakan bahwa dalam blue print TIK
untuk
pendidikan, fungsi-fungsi TIK digambar sebagai sebuah bangunan
gedung yang terdiri dari
pondasi, tiang, dan atap. Secara singkat berikut dikemukakan peran
TIK dalam masing masing aspek pendidikan:
1. Kurikulum dan Konten
TIK sebagai gudang ilmu pengetahuan dengan kapasitas dan ruang
lingkup yang
hampir tidak terbatas. Bentuknya dapat berupa referensi berbagai
ilmu pengetahuan yang
tersedia dan dapat diakses melalui fasilitas TIK, pengelolaan
pengetahuan, jaringan pakar,
jaringan antar institusi pendidikan, pusat pengembangan materi
ajar, wahana
pengembangan kurikulum dan sebagai komunitas perbandingan standar
kompetensi.
2. Fasilitas dan Sarana Prasarana
Teknologi informasi dan komunikasi memberi manfaat yang sangat
berarti
dalam penyediaan fasilitas dan sarana prasarana pendidikan. TIK di
sekolah dapat berupa
pojok internet, perpustakaan digital, kelas virtual, laboratorium
multimedia, papan
elektronik, dll.
3. Sumber Daya manusia
Sebagaimana telah disinggung dalam Unit 8, penguasaan dan
pemanfaatan TIK
untuk kepentingan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi
guru sekolah dasar.
Dalam Permendiknas nomer 16 tahun 2007 dinyatakan bahwa salah satu
kompetensi
pedagogik guru sekolah dasar adalah memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi
untuk kepentingan pembelajaran.
4. Administrasi Lembaga Pendidikan
Administrasi lembaga pendidikan merupakan salah satu lini
pendidikan yang
sangat terbantu dengan kehadiran ICT. Manajemen siswa, guru,
kelas, materi dan ekstra
kulikuler sebagai proses inti dalam administrasi menjadi lebih
mudah dilakukan dengan
ketelitian dan keakuratan yang lebih terjamin. Di samping
administrasi sekolah, SDM,
keuangan dan manajemen fasilitas juga lebih mudah dikelola dengan
memanfaatkan ICT.
Pemanfaatan ICT dalam administrasi lembaga pendidikan dapat
digambarkan dalam
diagram berikut: Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC)
5. Manajemen dan Kebijakan Lembaga Pendidikan
ICT dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai alat bantu
manajemen
sekolah dalam pengambilan keputusan manajerial lembaga pendidikan.
Untuk itu lembaga
pendidikan perlu mengembangkan sistem informasi manajemen
eksekutif sekolah, sistem penunjang keputusan, sistem informasi manajemen berbasis
sekolah dan sebagaimya. Dari berbagai sistem yang dikembangkan dapat diperoleh
informasi yang akurat dan terkini sebagai dasar manajemen sekolah mengambil
kebijakan sekolah.
C.
Peningkatan
Profesionalisme Guru Berbasis ICT
Dalam proses pembelajaran TIK dapat dimanfaatkan sebagai alat
bantu
pembelajaran dapat berupa alat bantu mengajar bagi guru, alat
bantu belajar bagi siswa,
serta alat bantu interaksi antara guru dengan siswa. Pada dasarnya
untuk mempelajari dan
mengembangkan konsep ICT/ Komputer sangatlah sederhana, tinggal
bagaimana
seseorang mengembangkan pola pikirnya ke arah positif untuk maju
dan berkembang
untuk mendapatkan tingkat akselerasi yang baik. Setelah
pemanfaatan ICT/Komputer
dapat dikuasai maka yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana
mengaplikasikan
ICT/Komputer dalam kehidupan Pendidikan dan Pembelajaran. Pelbagai
penerapan yang
mungkin digunakan di sekolah diantaranya: Jaringan Komputer Lokal
atau LAN (Local
Area Network), Koneksi ke
Internet, Laboratorium Komputer, Sistem Informasi yang
berkaitan dengan kegiatan sekolah seperti Perpustakaan, Data
Pelajar, Bahan Pelajaran,
dll. Penerapan ICT ini harus dalam sebuah kesatuan, integrasi
teknologi ini harus menjadi
sebuah bentuk penerapan yang mendukung secara utuh proses pendidikan
dan
pembelajaran sehari-hari di sekolah, sehingga usaha dan dana yang
dikeluarkan untuk
pengadaannya tidak menjadi sia-sia. Program ini benar-benar dapat
diterapkan di semua
sekolah. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan merupakan sarana
untuk
melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran.
Tujuan pengembangan ICT atau komputer dalam pendidikan adalah:
a) Menciptakan pusat
layanan informasi pendidikan bagi sekolah, industri dan
masyarakat.
b) Pusat interkoneksi
intranet dan internet di setiap kota/kabupaten dan sekolah.
c) Memperluas proses
pembelajaran yang terstandar di semua jenjeng pendidikan di
seluruh Indonesia.
d) Menmgurangi
disparitas pendidikan di setiap jenjeng pendidikan di seluruh
Indonesia. Sebagai sarana pembelajaran jarak jauh yang merupakan
salah satu
strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mempersiapkan SDM
Indonesia
yang memiliki kompetensi skala nasional dan internasional berbasis
keunggulan
lokal. Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) 7
e) Menyediakan pusat
informasi yang inovatif yang mampu membangkitkan
kreatifitas guna meningkatkan kompetensi.
f) Mendistribusikan
internet ke sekolah, dinas pendidikan dan institusi pendidikan
lainnya.
g) Membantu memajukan
perekonomian daerah melalui informasi dan komunikasi.
Untuk membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif bebasis
ICT
perlu memanfaatkan perangkat multimedia. Dengan perangkat
multimedia dapat
menyerap konsentrasi dari segala aspek rangsangan yang ada pada
indra manusia, antara
lain visual, audio dan motorik.
Pemanfaatan multimedia pembelajaran saat ini sudah banyak
diproduksi dan
diterapkan di sekolah-sekolah, universitas maupun lembaga diklat.
Multimedia
pembelajaran yang baik adalah paket yang dapat mengakomodasi semua
konsep ICT
yang sesuai untuk siapa, kapan dan dimana multimedia pembelajaran
tersebut digunakan.
Karena sebaik dan secanggih apapun multimedia pembelajaran dibuat
kalau tidak dapat
dicerna dengan mudah oleh pebelajar maka artinya media tersebut
tidak baik karena
tidak memberikan tambahan pemahaman pada pebelajar yang
bersangkutan.
Hal-hal yang penting dalam penerapan dan pembuatan media
pembelajaran
berbasis ICT antara lain:
1. Unsur visual yang sesuai dengan kondisi materi yang diajarkan.
Misal meng-gunakan
gambar atau animasi harus berhubungan dengan materi yang sedang
dibahas. Jangan
sampai animasi mendominasi tampilan sehingga terkesan menggangu
2. Unsur suara yang jelas dan tertata sehingga mudah didengar secara
sempurna dan
terkesan indah, merdu dan mudah dipahami. Selingan musik hanya
diberikan pada
hal-hal yang tidak memerlukan perhatian serius untuk dianalisa dan
dipahami.
3. Pemanfaatan ukuran huruf yang tepat dan sesuai dengan topik dan
materi yang
dibahas serta seimbang dengan tampilan keseluruhan media yang
ditayangkan.
4. Penggunaan warna yang menarik sesuai dengan kondisi dan posisi
tayangan dan harus
diseimbangkan dengan warna huruf dan gambar yang ada.
Beberapa hal berikut ini dapat kita jadikan acuan sebagai konsep
dasar yang
paling sederhana dalam mengaplikasikan ICT/Komputer dalam dunia
pendidikan, dan
pembelajaran, yaitu:
1. Adanya web site pada sekolah dengan dwi bahasa (Inggris dan
Indonesia)
a.Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap sekolah.
b. Pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, Pemerintah,
industri dan masyarakat yang meliputi kegiatan sekolah antara lain: Penerimaan
Siswa Baru, Data Sekolah, Data Siswa, Proses Pembelajaran, Berita Sekolah,
Bursa Kerja Khusus, Evaluasi, dll.
2. Sarana Komunikasi Sisterschool dan partnership dengan
sekolah luar negeri. ICT
sebagai alat komunikasi di sekolah dan dengan partnership Luar
negeri bermanfaat
sebagai:
a. Video Conference (Pembelajaran Jarak Jauh)
b. Tukar-menukar informasi unutk mengembangkan pembelajaran
3. ICT sebagai instrument untuk menampilkan pelaporan sekolah kepada
stakeholder
(Pemerintah, Guru, Pemda, masyarakat dan industri serta
partnership.
4. Sarana kemudahan presentasi dan akses ke sumber referensi
1. Sumber data informasi lembaga yang berfungsi sebagai media
informasi dan
promosi kinerja lembaga.
2. Berkenaan dengan tujuan dan sasaran dari pendidikan dan
pembelajaran pada
masyarakat pendidikan.
3. Apakah silabus yang dipakai sudah tepat dan dimana tempat untuk
mencari
acuan yang tepat.
4. Metode-metode pengajaran harus tepat sasaran dan sesuai dengan
kebutuhan
5. Jadwal pelajaran, jadwal diklat, atau jadwal ujian dapat di-upload
secara
online
6. Pemberian tugas dan pengumpulan data
7. Sebagai media penampung informasi daftar referensi atau bahan
bacaan
8. Profil lembaga dan kontak pengajar atau masyarakat instansi
a. Pemanfaatan diktat dan catatan pelajaran
b. Memudahkan pencarian dan pembuatan bahan presentasi
c. Sebagai bank data semisal mencari contoh ujian yang lalu atau
soal yang lalu
d. Sebagai media tanya jawab / FAQ (frequently asked questions)
e. Sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas
f. Sebagai penyedia situs-situs bermanfaaat
g. Pencarian artikel-artikel dalam jurnal online
Sarana Komunikasi dalam kelas yang atraktif, inovatif dan menarik
1. Pemanfaatan forum diskusi online
2. Mailing list diskusi
3. Papan pengumuman yang menyediakan informasi (perubahan jadwal
kuliah,
informasi tugas dan deadline-nya)
4. Sarana untuk melakukan kerja kelompok
5. Sarana untuk sharing file dan direktori dalam kelompok
6. Sarana diskusi untuk
mengerjakan tugas dalam kelompok
Sistem ujian online dan pengumpulan umpan balik (feedback)
Memanfaatkan fasilitas jaringan lokal maupun internet sebagai
saran ujian yang
online memudahkan dan menyederhanakan kerja pendidik.
Konsep diatas tidak mutlak harus ada semua dalam sebuah aplikasi
ICT instansi
pendidikan, karena tiap lembaga atau sekolah selalu mempunyai
latar belakang keadaan dan
topologi geografis yang berbeda, maka biasanya selalu Manajemen
Berbasis Sekolah
(Suplemen BAC) mempunyai
konsep yang berbeda pula. Yang paling penting adalah
pemanfaatan ICT dapat diterapkan seoptimal mungkin untuk
memberikan akselerasi
pendidikan ke arah positif dan maju dengan lebih cepat,
berkesinambungan, terarah dan terkoordinasi.
Pemanfaatan e-Learning
Ketika kita berbicara tentang pemanfatan e-Learning, maka hakikatnya
adalah
sama saja dengan strategi pemanfaatan perangkat lunak. Hal ini
karena e-Learning adalah
juga merupakan suatu perangkat lunak. Aplikasi e-Learning terlengkap
dan terbaik yang ada
di internet belum tentu sesuai dengan kebutuhan sebenarnya dari
pengguna. Saat ini
sebenarnya industri e-Learning sedang mengalami krisis,
yang berakibat ke kegagalan eLearning.
Dari sebuah studi tahun 2000 yang dilakukan oleh Forrester Group
kepada 40
perusahaan besar menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja (lebih
dari 68%) menolak
untuk mengikuti pelatihan/kursus yang menggunakan konsep e-Learning.
Ketika e-Learning
itu diwajibkan kepada mereka 30% menolak untuk mengikuti ([Dublin,
2003] dalam Romi
Satria Wahono. IlmuKomputer.Com). Sedangkan studi lain mengindikasikan
bahwa dari orang-orang yang mendaftar untuk mengikuti e-Learning, 50-80% tidak pernah
menyelesaikannya sampai akhir ([Delio,
2000] dalam Romi Satria Wahono).
Dari berbagai literatur yang ada, kegagalan e-Learning sebagian
besar diakibatkan
oleh kegagalan dalam analisa kebutuhan yang mengandung pengertian
bahwa pengembang
tidak berhasil meng-capture apa sebenarnya kebutuhan dari
pengguna (user needs). Hasil dari
proses analisa kebutuhan (requirements analysis) pengguna
diterjemahkan sebagai fitur-fitur
yang sebaiknya masuk dalam sistem e-Learning yang di
kembangkan.
Sebagai pedoman fitur-fitur yang biasanya disediakan dalam sistem e-learning
dapat menggunakan konsep penggunaan ICT yang penulis kemukakan
diatas. Karena pada
dasarnya e-Learning merupakan salah satu metode penerapan
ICT yang berbasis WEB
dengan menggunakan teknologi Internet, dalam artian sistem
jaringan online yang lebih luas
tanpa batas. Dengan sistem e-Learning, seseorang yang ingin
belajar bebas untuk memilih
apa yang akan di pelajari dalam waktu yang tidak terikat dan bebas
untuk mengekspresikan
semua materi yang didapatkan.
Dalam pembuatan konsep pengaplikasian e-Learning alangkah
baiknya bila kita
gunakan konsep-konsep yang berbasis pada analisis kebutuhan
tiap-tiap pemakai. Sehingga
dalam hal ini diperlukan suatu kerja sama yang saling berkaitan
dalam membentuk suatu
wadah untuk menuangkan karya cipta antara kebutuhan dan proses
produksi materi untuk
menghasilkan pembelajaran berbasis e-Learning yang optimal
dan sesuai. Maka dalam hal ini
diperlukan suatu pengembangan SDM yang dapat menguasai teknologi
dan materi-materi
pendidikan untuk dapat bekerja sama membentuk team work yang
solid.
Merangkum berbagai pemikiran, Uwes A. Chaeruman (2008) menyatakan
bahwa
integrasi TIK dalam pembelajaran yang sesungguhnya harus
memungkinkan terjadinya
proses belajar yang:
1. Aktif; memungkinkan
siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang
menarik dan bermakna.
2. Konstruktif; memungkinkan
siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna
atau keinginan
tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
3. Kolaboratif; memungkinkan
siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling
bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan
memberi masukan
untuk sesama anggota kelompoknya.
4. Antusiastik; memungkinkan
siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk
mencapai tujuan yang diinginkan.
5. Dialogis; memungkinkan
proses belajar secara inherent merupakan suatu proses
sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses
komunikasi
tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
6. Kontekstual; memungkinkan
situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang
bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based
atau case-based
learning”
7. Reflektif; memungkinkan
siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta
merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari
proses belajar itu
sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
8. Multisensory; memungkinkan
pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai
modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual,
maupun kinestetik (dePorter et al,
2000).
9. High order thinking skills training; memungkinkan untuk melatih kemampuan
berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan
keputusan, dll.) serta
secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media
literacy” (Fryer, 2001).
Sistem Informasi Manajemen Sekolah
Menurut Mcleod (1995) mendefinisikan
sistem informasi manajemen sebagai suatu sistem berbasis komputer yang
menyediakan informasi bagi para pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Para
pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal atau sub unit
dibawahnya. Informasi menjelaskan suatu organisasi yang salah satu sistem
utamanya menjelaskan mengenai apa yang telah terjadi, apa yang sekarang
terjadi, dan apa kemungkinannya di masa mendatang.
Sedangkan menurut Gordon. B Davis
(1974) yang dialih bahasakan Aceng Muhtaram Miirfani dalam “Sistem Informasi
Pendidikan dan Ketatausahaan Sekolah” menyatakan bahwa :
“ Sistem informasi manajemen
merupakan sebuah sistem manusia/mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi
guna mendukung operasi, manajemen, dan pengambilan keptusan dalam sebuah
organisasi”
Dalam pengertian diatas dinyatakan
bahwa sstem informasi manajemen merupakan sistem mesin/ manusia yang terpadu.
Hal ini mengandung makna bahwa mesin dan manusia harus merupakan suatu sstem,
mesin tanpa manusia atau manusia tanpa mesin, SIM tidak akan berjalan
atau adanya kerusakan salah satunya , akan merupakan suatu kecacatan dalam
sistem informasi manajemen.
Ada tiga komponen dalam sistem
informasi manajemen, yaitu :
1. Sistem
Sistem adalah seperangkat komponen
yang terdiri dari dua atau lebih, yang saling berhubungan dan saling
ketergabtungan satu sama lain, untuk mencapai suatu tujuan bersama. Jika suatu
sistem tertentu diidentifikasi, maka seringkali terdapat sejumlah sistem yang
lebih kecil yang dinamakan subsistem. Setiap bagian organisasi selalu
membutuhkan keputusan yang cepat dan tepat. Juga membutuhkan bagian-bagian yang
lain untuk pembuatan keputusan, apalagi top managernya. Keputusan yang
dicetuskan sangat bergantung pada data-data/ informasi dari berbagai subsistem.
Maka disinilah dirancang sistem informasi manajemen, sehingga dapat dianggap
sebagai metode untuk memecahkan masalah.
2. Informasi
Informasi erat hubungannya dengan
data. Informasi berasal dari data. Oleh karena itu, sebelum memahami informasi,
akan lebih baik memahami datardahulu. Kriteria suatu informas manajemen yang
efektif aalah bahwa sistem tersebut dapat memberikan data yang cermat, tepat
waktu, dan yang penting artinya bagi perencanaan, analisis dan pengendalian
manajemen untuk mengoptimalkan pertumbuhan organisasi.
3. Manajemen
Komponen ketiga adalah manajemen,
yang merupakan proses pengelolaan dari mulai pengumpulan data, hingga menjadi
informasi termasuk proses pertransferan informasi kepada yang memerlukan.
Manajemen dapat pula dipandang sebagai serangkaian proses pengelolaan yang
menggunakan fungsi-fungsi manajemen. Dalam sistem informasi manajemen berarti
proses informasi selalu memerlukan penerapan fungsi-fungsi manajemen dari mulai
perencanaan, pengumpulan data, pelaksanaan pengumpulan data, pengolahan,
penyimpanan,sampai dengan penyebaran informasi. Dalam sistem informasi
manajemen, seorang pemimpin tidak akan mampu bekerja tanpa dibantu oleh
bawahannya. Karena SIM tidak menerima data dari atasan atau dari segi satu
bagian saja dalam organisasi, tetapi dari semua bagian. Shingga diperlukan
bawahan secara spesifik menangani data dan informasi yang diterima dari
bagian-bagian yang lain.
Sumber
:
0 komentar:
Posting Komentar